
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
“Sungguh salah seorang dari kalian yang mengambil talinya, dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya, kemudian dia menjualnya, lalu Allah mencukupkannya dengan (menjual) kayu bakar itu, maka itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya.” (HR. Bukhari no. 1471)
Di tepian jalanan yang pengap oleh asap knalpot kendaraan, ada seulas senyum yang merekah pada teriknya mentari. Dari setiap langkahnya ada harapan yang terpahat pada dinding kehidupan yang kian ruwet dan berliku.
Ketika matahari beranjak mulai siang dan terik menyengat, perlahan awan pun hadir menyapa memberi tempat untuk bernaung dan berteduh bagi para pejalan kaki dibawah payung langit yang sedang berkabung. Tapi dari sekian banyak pejalan kaki ada sosok yang menarik perhatian, bukan dari penampilannya yang rapih dan bersih, tapi dia sudah mulai mengambil sesuatu dalam tas kresek lusuh yang terbungkus rapi.
Perlahan mulai nampak jelas, sebuah mantel lusuh yang kumal, dia mulai memakainya dengan tenang sambil tersenyum menyapa para pejalan kaki yang melintasi didepannya. Sesekali dia melihat langit yang mulai mendung dan gelap, seolah dia adalah BMKG berjalan yang sedang memprediksi cuaca yang akan terjadi sesat yang akan datang.
Saat mantel lusuh dengan sempurna dikenakan, air mata langit yang sedang berkabung mulai menetes perlahan dengan rintik yang tenang. Karung rongsokan yang ada diatas bahu sambil dipanggul dengan wajah yang terlihat kini renta, dipikul dengan tenang diringi senyum yang tulus. Kardus bekasnya kini dibungkus plastik lusuh tuk menghindari hujan.
Langkah kakinya perlahan terus melaju meyusuri lorong kota yang pengap, bising suara yang ada seolah hanya jadi musik penghibur jalanan, dia tak terpengaruh oleh apapun yang ada, hanya langkah yang terus melaju menuju tempat berteduh. Hujan yang mulai rintik perlahan deras mengguyur kota yang sedang ramai dari senyum, canda dan tawa, tiba-tiba jadi riuh gemuruh oleh suara guntur menggelegar.
Banyak pejalan yang berhenti berteduh di emperan toko atau tempat yang kosong hanya sekedar menghindari hujan. Sang pemulung dengan mantel lusuh terus melangkah dengan tenang dari hujan yang makin deras. Seluruh tubuh ringkih dalam mantel lusuh yang diguyur hujan, tapi tak ada kata menyerah tuk terus melangkah.
Mantel lusuh itu jadi pelindung sang pemulung di jalanan yang penuh lumpur dan hujan yang deras. Dia terus melangkah dengan damai walau guyuran hujan yang terus menyapa semesta. Hanya ada senyum yang terus merekah menghiasi wajahnya. Hidupnya penuh drama jalanan dengan fenomena kisah yang penuh heroik. Dia sadar bahwa, tak ada tempat bergantung yang terbaik kecuali hanya kepada sang pemilik semesta yang abadi.
Perlahan hujan mulai mereda, tapi mantel lusuh masih tetap menjadi teman setiap perjalan menuju kebahagiaan. Ada harapan yang selalu diimpikan untuk keluarga kecilnya, ada senyum hangat yang menanti hadirnya di gubuk kecil penuh kebahagiaan. Senyum yang mengundang tawa dalam dahaga tuk menghilangkan kerisauan.
Pemulung dengan mantel lusuh tak pernah mengusik apalagi membuat hidup orang lain resah, mereka hadir sebagai pahlawan kebersihan bagi orang-orang serakah yang katanya penjaga kebersihan, tapi lewat tangan jahilnya melepas sampah berserakan tanpa rasa bersalah pada semesta. Mungkin sang pemulung tak pernah mengeyam pendidikan sekalipun, tapi ada rasa iba pada nilai dan moral dalam menjaga kebersihan yang sesungguhnya.
Mungkin ada sebagian kita yang memandang rendah pemulung yang terlihat lusuh di jalanan padat memanggul karung atau mendorong gerobak berisi rongsokan. Tapi itulah profesi mulia yang dijalankan setiap hari tanpa henti, mereka tak pernah mengusik hidup orang lain yang berbeda dengannya, mereka tak pernah menyikut orang lain demi sebotol yang terbuang di jalanan bahkan di tong sampah berserakan.
Pakaian lusuh itu adalah jubah kemuliaan yang mereka punya, tak pernah lelah melangkah menapaki setiap lorong jalanan yang penuh lumpur tanpa alas kaki, tapi senyum tak pernah pudar oleh terik yang menyengat. Keringat membasahi sekujur tubuh berbalut airmata menggenang di pelupuk. Tapi tak ada kata menyerah tuk terus melangkah menapaki hidup yang penuh tantangan.
Dalam tapaknya, kadang hujan menyapa kadang terik menyelimuti, yang ada mantel lusuh menjadi satu-satunya alat yang melindungi dari derai airmata langit, selalu membalut di badang yang kian letih. Mungkin lelah terus bertambah pada setiap langkah, tapi tak ada keraguan sedikitpun yang mempengaruhi tapaknya. Sang pemulung sangat yakin akan rezeki dari sang Maha Razzak.
Ketika kebahagian itu hanya diukur dengan harta, maka nabi Sulaiman adalah sang nabi kaya raya yang dengan hartanya dia memberi makan pada ikan-ikan di lautan dengan sifat dermawan yang tinggi lalu nabi Sulaiman berdo’a pada Allah “Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu…,” (QS. An-Naml: 19).
Qorun yang hidup bergelimang harta dengan serakah di masa nabi Musa pun tenggelam tertimbun oleh reruntuhan tanah, tenggelam dengan hartanya hingga tak bersisa. Allah ingatkan Qarun dengan pesan abadi dalam Al Qur’an “Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka.” (QS. al-Qashash:78).
Dua kisah antara syukur dan kufur nikmat di atas adalah bukti bahwa setiap pemberian rezeki oleh Allah itu bukti kuasanya, tergantung bagaimana cara kita menyikapi setiap rezeki yang Allah berikan pada kita. Syukur dan kufur itu sabgat tipis perbedaannya.
Mantel lusuh pemulung mengajarkan kita akan arti menjaga dan merawat apa yang kita miliki. Sang pemulung mungkin sedih tapi tak pernah berteriak dalam kesedihannya, tapi terus melangkah maju tuk hadirkan senyum walau dalam tapaknya hanya selembar kardus dan sebotol kosong teronggok di jalanan jadi rezekinya.
Ada bahagia yang dirindukan, ada senyum yang dihadirkan, ada rindu yang selalu disemai, ada cinta yang selalu tumbuh dari rongsokan yang berserak, ada kasih sayang yang selalu dipupuk tuk selalu tumbuh, dan ada kedamaian yang selalu jadi harapan dalam dekapan keluarga.
Mantel mungkin lusuh bagi sang pemulung, tapi memberi rasa aman dan kehangatan dari siraman hujan yang hadir tiba-tiba kadang tanpa permisi, dari mantel lusuh hanya ada senyum yang menemani dalam hiruk pikuk pengapnya kota yang katanya paling bahagia.
Ada kebahagiaan yang terus hadir tanpa diundang dalam dekapan lumpur jalanan, langkah tak pernah henti oleh banjir yang mungkin melanda keramaian kota, mantel lusuh terus mendekap tubuh yang sedang ringkih didalamnya, tapi ada aroma kenikmatan yang tak tergantikan dengan panggulan karung yang penuh rongsokan berkeping rupiah penyambung hidup.
Dari mantel lusuh sang pemulung kita belajar tentang syukur, tenang bahagia, tentang senyum, dan tenang semangat. Ada harapan yang terus dikejar walau tak tahu kapan kan diraih, tapi semangat terus membara tuk melangkah maju walau tak pernah ada jalan yang mulus.
Mantel lusuh itu menghadirkan rindu, menggenggam rasa, mendekap cinta, mengeratkan kasih, tak pernah meleraikan kehangatan yang terus tumbuh dalam hening dan sunyinya kala malam mulai menyapa.
Langkah itu perlahan dan gontai menyusuri lorong kota untuk pulang. Di rumah keluarga terus menanti dengan doa penuh kasih. Berharap keberkahan selalu melimpahkan dan dilimpahkan oleh yang kuasa. Langkah itu perlahan dekat dengan tempat berteduh, ada suara riuh dan canda tawa yang menghiasi gelapnya malam menyambut kehadiran sang ayah. Itulah cinta yang hadir dari mantel lusuh pemulung yang selalu dirindukan keluarga tercinta. Teruslah berbuat baik walau hanya dengan sebotol minuman kosong, kungkin dari sanalah senyum itu hadir tanpa kita sadari.
Biarkan Allah sebagai penjaga dan tempat bersandar bagi hamba yang lemah, tapi terus melangitkan doa di malam sunyi ketika yang lain terlelap dalam mimpi panjang. Walau di gubuk reot berdindingkan rongsokan hasil mulung, tapi terus bersujud pada pemberi rezeki yang terus mengalir tanpa henti. Terus bersyukur tanpa tapi dan tak bertepi.(*)

