
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Hidup Adalah Catatan”
Ramadan dan Idulfitri, hampir sebulan kita telah berpisah dengannya, tak terasa waktu berlalu. Apakah seperti itu pula rasa Ramadan dan Idulfitri turut hilang dalam keseharian kita? Ramadan dengan durasi tempaan panjang selama 30 hari dan kemenangan yang diraih saat hari raya. Yah, semua cukup selesai dengan label “kemenangan” tanpa mengeja makna dan menyisakan bekal pada hari-hari selanjutnya.
Idulfitri sebagai hari raya yang menandakan berakhirnya puasa Ramadan sebulan penuh. Dan di hari kemenangan tersebut diharamkan berpuasa. Menang dari apa? menang dari melawan hawa nafsu dalam diri sendiri, menang mampu menahan ego untuk makan dan minum di siang hari. Menang karena meraih gelar takwa yang dijanjikan sebagai alumi Ramadan.
Namun, arti sebuah kemenangan bukan saat meraih penghargaan terhadap capaian tersebut saja. Tapi, bagaimana mempertahankan kemenangan itu. Ramadan sebagai pusat latihan tentu memiliki banyak faktor yang sengaja dikondisikan. Baik yang datang bersama kemuliaan Ramadan atau dari setiap orang beriman yang secara pribadi maupun kolektif menyiapkan termasuk dalam bentuk regulasi.
Ramadan sebagai madrasah, bisa menjadi analogi seperti seorang siswa yang bersekolah. Waktu masuk dan pulang sudah jelas dan dipatuhi bersama, semua aktivitas disekolah terjadwal dan kelola secara disiplin. Bila ada yang beda dari ketentuan akan terlihat dengan seksama. Saat pulang dan berinteraksi dengan lingkungan di luar sekolah bisa dirasakan bedanya. Apalagi dengan faktor lingkungan yang “bebas” dibandingkan dalam sekolah.
Pasca Ramadan kita akan seperti anak sekolah yang berhamburan ketika mendengar bel pulang berbunyi. Kembali ke lingkungan dan kondisi normal. Tempat hiburan tak ada lagi pembatasan jam operasional, warung makanan terbuka lebar pintunya, ibadah malam seperti shalat tarawih yang ramai tak ada lagi, shalat Tahajud serasa sepi tanpa suara membangunkan sahur di sepertiga akhir malam dan seterusnya.
Makna kemenangan akan mulai diuji saat 1 Syawal hingga 11 bulan kemudian. Semua instrumen keistimewaan Ramadan telah berlalu. Masing-masing pribadi tak lebih solid dan kompak dalam suasana spiritualitas. Disinilah mentalitas, daya juang dan habits seseorang pemenang Ramadan dibuktikan. Hanya berRamadan 30 hari atau Ramadan sepanjang waktu.
Ada empat aspek kemenangan yang harus dijaga dan rawat sepanjang waktu hingga berjumpa kembali dengan Ramadan tahun depan.
Pertama, aspek spiritual. Kemenangan penghambaan kepada Allah. Ramadan sebagai awal peningkatan ibadah harus terasa, terjaga dan mewarnai hari-hari kita. Kedua, aspek emosional. Ramadan mengajari dan menempa kita dengan kesabaran. Bahkan terhadap makanan yang halal sekalipun untuk tidak dicicip pada siang hari. Manajemen emosi dalam melawan hawa nafsu tak boleh kendor bahkan kejebolan oleh pancingan dan rayuan sepele.
Kemudian ketiga, aspek sosial. Empati dan peduli yang ringan dilakukan selama Ramadan tak boleh luntur. Kepedulian, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam empati dan sikap terhadap sesama. Dan yang keempat, aspek intelektual. Asupan akal tak boleh berkurang.
Membaca Al-Qur’an dan bermajelis ilmu hendaknya menjadi tradisi dalam upaya mendekatkan diri pada-Nya. Durasinya boleh berkurang, namun tak boleh hilang selama di luar Ramadan.
“Hari Raya Idulfitri itu bagi mereka yang puasanya diterima, amal ibadahnya diterima, dan dosanya diampuni. Bagiku, hari ini Hari Raya Idulfitri. Begitu juga esok hari. Setiap hari aku tidak bermaksiat kepada Allah, dan itu artinya setiap hari adalah Hari Raya Idulfitri bagiku,” (Ali bin Abi Thalib ra).
Makna kemenangan harus dijaga dan dirawat setiap hari, ia tak boleh berhenti hanya pada satu dua hari, tujuh hari atau tiga puluh hari di bulan Syawal saja. Bahkan untuk menjaga keterikatan jiwa dengan bulan Ramadan para ulama salaf tak melepaskan doa sepanjang waktu di luar bulan suci tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berikut ini,
“Para salaf selalu berdoa kepada Allah selama enam bulan agar bisa diperjumpakan dengan bulan Ramadan. Kemudian mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah menerima amalan mereka.” (Lathaif Al-Ma’arif)
Kemenangan yang telah diraih agar diterima oleh-Nya dan agar kemenangan berikutnya diperkenankan berjumpa oleh-Nya.(*)

