Dewasa

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

 

“Manusia menjadi dewasa dengan akalnya, bukan dengan putih rambut dan jenggotnya.”

Jalaluddin Rumi (1207-1273 M)-

an itu suatu penghargaan yang luar biasa dari pemilik semesta kepada setiap hambanya. Dewasa itu sering kita terjebak pada angka dari usia seseorang. Namun usia tidak menjamin akan kedewasaan seseorang.

Sekolah kehidupan selalu mengajarkan kita pada setiap dimensi kehidupan yang silih berganti. Kadang maju kadang juga mundur, kadang turun kadang juga naik. Setiap proses dari kehidupan akan menempa seseorang menjadi lebih dewasa dalam bersikap.

Dinamika kehidupan kadang dibenturkan pada apa yang kita mau, tapi tidak sesuai dengan realita yang kita hadapi. Ketika kaum Yahudi mengetahui bahwa nabi akhir zaman akan datang dari negri Arab, mereka lalu mengikrarkan untuk terus melawan karena merasa trah mereka paling baik dari semua trah keturunan nabi Ibrahim as.

Proses inilah yang menanamkan kebencian yang mengakar hingga kini dan yang akan datang. Yahudi tidak pernah akan rida dengan apa yang dibawa oleh nabi akhir zaman yang bukan dari keturunan mereka. Mereka ditakdirkan jadi orang cerdas secara intelektual, tapi kecerdasan emosional dan kecerdasan sosial sangat minim bahkan tidak ada sama sekali.

Dari gambaran kaum Yahudi ini, dapat kita petik hikmah yang sanga luar biasa dalam kehidupan akhir zaman saat ini. Ketika pendidikan kita semakin tinggi ada yang bertambah egonya, namun ada juga yang merendah. Ketika ada yang hartanya bertambah, maka bertambah juga egonya dan ingin dipuja puji bahkan ingin dihormati.

Dunia itu permainan yang sangat luar biasa, menghancurkan kita secara perlahan dalam diri kita sendiri, bukan dari orang lain. Yang sulit dilawan oleh kita adalah melawan diri sendiri. Ego kita kadang terus hadir dan di komporin oleh setan dan nyalanya bahkan tak pernah padam.

Dewasa dalam bersikap dan berpikir adalah dua hal yang sangat berbeda dalam menghadapi setiap tantangan hidup. Ketika semakin banyak tantangan dihadapi, yang harus di hadirkan adalah bersikap tenang dan terus hadirkan pemilik semesta dalam diri kita. Karena setiap emosi yang datang bisa saja akan meruntuhkan marua diri.

Kekuatan sejati itu tumbuh dalam jiwa yang tenang, Jiwa yang tidak mudah terprovokasi oleh umpatan dan caian orang lain. Karena sekolah kehidupan mengajarkan tentang senyum dalam dekapan kebersamaan.

Dewasa yang sesungguhnya adalah ketika angka umur semakin bertambah dan pendidikan yang tinggi menjadi jembatan dalam mendewasakan cara berpikir dan bertindak yang seimbang. Ketika menghadapi tantangan selalu tenang dan menjadi penengah dalam menyelesaikan bukan menjadi bara untuk menyalakan kebencian atau menghancurkan.

Dewasa jika dilihat dari angka umur dan tingkat pendidikan, maka banyak orang yang gagal dalam membawa diri ketika menghadapi tantangan dalam sekolah kehidupan. Ada yang hadir bukan menjadi penengah, tapi menyulut kebencian. Padahal jika dilihat dari jenjang pendidikan dan umur begitu matang, namun kurang dari segi dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Jadilah dewasa dalam setiap kondisi, hadir jadi solusi bagi orang lain dan bukan jadi bara untuk menghadirkan kebencian di antara sesama. Jangan membuka celah bagi setan dalam menghasut kita untuk saling bermusuhan, walaupun setan tak pernah berhenti dalam menghasut anak Adam hingga kiamat kelak.

Jaga kewarasan dalam berpikir dan juga bertindak. Dewasa bukan dilihat dari usia juga tingkat pendidikan, tapi dilihat dari cara pandang kita tentang kehidupan. Orang yang dewasa adalah mereka yang berjiwa besar dalam setiap mengambil keputusan dari berpikir dan bertindak.(*)

Scroll to Top