The Great Reset, Menata Ulang Hati Di Dunia Yang Berisik

Oleh Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق من النار

Artinya, “Awal bulan Ramadan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka.”

Ramadan bulan penuh rahmat dan ampunan, dan banyak ketuamaan yang Allah sediakan bagi setiap hamba-Nya yang beriman. Ketika Ramadan mulai menyapa setiap sudut semesta mulai berisik dengan nilai-nilai kebaikan, namun tentu ada juga selingan gosip jadi bumbu kehidupan di lorong-lorong semu.

Berisik bukan berarti mengusik, tapi berisik pada hal yang memberikan energi positif bagi setiap individu yang mengundang suasana tenang jadi berisik. Ketika bulan Ramadan belum menyapa, mungkin di sudut-sudut masjid dan rumah tangga jarang terdengar ayat-ayat cinta-Nya dilantunkan, namun ketika Ramadan menyapa setiap sudut masjid dan rumah terasa berisik.

Cinta-Nya menggema dan tentu menggemaskan. Allah selalu menemani hamba-Nya dalam keadaan lapang juga sempit, dalam keadaan senyum juga sedih, dalam keadaan tertawa juga diam, dan dalam keadaan tertidur juga terjaga.

Allah selalu menjaga hamba-Nya dengan caranya sendiri, namun setan tidak pernah menyerah untuk mengusik riak berisik positif jadi negatif. Memang setan dibelenggu tapi nafsu manusia terus diusik untuk menyeruak menghadirkan yang negatif.

Ketika ibu-ibu mampir di tukang sayur saling nyapa, awalnya bertukar kabar yang ujungnya mulai dibumbui gosip yang mungkin tak pernah berakhir di dunia nyata hingga di dunia maya. Gosip itu indah bagi mereka yang sudah terbiasa dan membiasakan diri untuk terus bergosip.

Saat ini, suara berisik di dunia nyata dan maya semakin menyebar dalam senyap, dari yang nyata hingga yang tidak. Kebohongan sudah jadi kebiasaan dan menguasai jagat maya, sedangkan kebenaran meredup dan hampir lenyap oleh kemunafikan berbumbu kenyataan.

Mari kita jadikan momentum hadirnya tamu istimewa yang mungkin jadi tamu terakhir kita, untuk terus tumbuh dan berbenah diri menjadi pribadi yang memiliki akhlak, karakter, dan sifat yang terpuji, hingga menyatu menjadi nadi yang menggerakkan hati kita menjadi bersih dari sifat tercela.

Bulan Ramadan tentu hadir dengan pilihan yang tak akan tergantikan oleh bulan yang lainnya. Dia hadir dengan tiga tangga istimewa bagi hamba Allah yang beriman. Tangga pertama Allah membuka lebar pintu rahmat-Nya kepada semua umat muslim tanpa terkecuali yang tak bertepi. Semua diberi kesempatan memanen keberlimpahan ini sesukanya.

Tangga kedua, Allah membuka pintu ampunan kepada hamba-hamba-Nya, tentu ini tidak serta merta diberikan begitu saja oleh Allah. Ini adalah tahapan ujian kepada setiap kaum muslimin yang berbeda dari tangga pertama. Tangga kedua shaf masjid mulai maju kedepan, tilawah mulai diuji, bersedekah mulai terganggu, gosip semakin berisik hingga bersisik. Tangga ini Allah memberi celah pada kita untuk terus berbenah dan introspeksi diri agar lebih baik lagi.

Tangga ketiga, Allah menghadiahkan kado istimewa bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih dan memang hanya untuk mereka yang terpilih, yakni pembebasan dari api neraka. Semua makhluk-Nya menginginkan hal ini tapi tidak semuanya akan mendapatkannya. Di tahapan ini shaf masjid terus maju kedepan hingga nyaris habis. Hanya orang yang terpilih dan pilihan yang terus bertahan hingga finis dan mendapatkan kado istimewa dan Sang Pemilik Semesta.

Ketika dunia semakin berisik, marilah kita berhenti sejenak untuk menepi, menata hati, menjernihkan pikir, dan memperbaiki perilaku kita hingga menjadi hamba yang dipilih oleh Sang Pencipta. Kelak kita dapat mempertanggungjawabkan setiap langkah yang sudah kita pilih.

Jangan biarkan dunia mengendalikan kita, tapi kita yang mengendalikannya dengan terus berbenah menjadi pribadi yang menjunjung nilai-nilai kebenaran. Ibarat kita sedang menggenggam bara, ketika melepaskan baranya akan membakar dan jika terus digenggam kita yang akan terbakar. Maka genggamanlah bara dengan ilmu yang dapat memberi manfaat untuk sesama. Jika tak ingin berisik, katakanlah yang benar atau lebih baik diamlah.

Tata ulang hati kita dengan memperbaiki niat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan, agar setiap momen ibadah di bulan Ramadan menjadi pundi-pundi amal yang akan kita petik kelak di Yaumil akhir. Dunia memang berisik, tapi jika kita dapat mengendalikannya, maka kita akan melangkah dengan tenang dan damai. Teruslah tersenyum walau terus digempur oleh kebisingan tanpa akhir. (*)

Scroll to Top