Soekarno Hatta Diculik Sejak Sahur Hingga Berbuka

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

 

8 Ramadan 1364 H, Dini hari.

Sukarni yang mewakili golongan muda dari perkumpulan mahasiswa “Menteng 31” (sekarang Museum Sumpah Pemuda) dan perkumpulan “Prapatan 10” (Sekarang Museum Kebangkitan Nasional) di antaranya: Chaerul Saleh, Yusuf Kunto, Dr. Muwardi, Shodanco Singgih, Wikana, Sayuti Melik, Sudiro, BM Diah, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio Sastrosatomo, Subianto, Margono, Adam Malik, Armansyah dan lain lain menuju kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. Ia menyampaikan bahwa besok siang 15 ribu rakyat akan masuk kota dan bergabung dengan mahasiswa juga anggota PETA yang sudah di kota untuk melakukan revolusi mendesak percepatan kemerdekaan Indonesia. Soekarno dan Moh. Hatta akan diamankan ke suatu tempat.

Jadilah kemudian pada saat memasuki waktu sahur sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 16 Agustus 1945 itu Soekarno, Moh. Hatta, ikut pula Fatmawati dan Guntur yang masih balita di “culik”  ke Rengasdengklok, Kabupaten Karawang Jawa Barat. Jaraknya 65-70 km dari Jakarta.

Rengasdengklok sebuah nama yang tak bisa dipisahkan dari peristiwa proklamasi RI. Sebuah peristiwa yang ikut andil dalam memerdekakan republik ini.

Setiba di Rengasdengklok rombongan Soekarno disambut oleh para pemuda PETA dengan pekik Hidup Bung Karno!, Indonesia Sudah Merdeka!, dan lain-lain. Artinya, kalau benar penculikan, tak mungkin ada penyambutan seperti itu.

Soekarno, Moh. Hatta, Fatmawati dan Guntur kemudian ditempatkan pada sebuah rumah milik Djiauw Kie Siong seorang Tionghoa.

Hari itu di Jakarta dua tokoh ini dicari-cari oleh banyak orang. Selain pihak Jepang yang sudah menyerah tanpa syarat pada sekutu, juga para anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) terkait dengan persiapan kemerdekaan yang sudah di depan mata. Mereka berdua adalah pucuk pimpinan panitia yang menyiapkan segala hal terkait peristiwa sakral kebebasan dari belenggu penjajahan yang telah lama diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Penculikan Rengasdeklok ini penyebab utamanya perbedaan pendapat antara Golongan Muda (Sukarni cs) yang mendesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945. Sedangkan Golongan Tua – Soekarno, Moh. Hatta, Ahmad Soebardjo dll- Lebih berhati-hati memilih jalur prosedural melalui PPKI, menghindari agar tidak terjadi konflik dan pertumpahan darah.

Pada siang hari itu di Jakarta terjadi negosiasi antara Golongan Muda dan Golongan Tua. Ahmad Soebardjo menjamin dengan nyawanya bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945 tanpa campur tangan dan pengaruh Jepang. Dan meminta golongan muda untuk segera membawa Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Sepanjang hari itu tidak terjadi peristiwa revolusi belasan ribu rakyat akan masuk kota sebagaimana gertakan golongan muda. Jakarta aman-aman saja.

8 Ramadan 1364 H, Menjelang Magrib.

Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok menjemput Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jakarta. Kemudian menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat (sekarang merupakan Gedung Perumusan Naskah Proklamasi) untuk merumuskan naskah proklamasi yang akan dibacakan besok.

Bulan Ramadan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesi banyak di penuhi peristiwa-peristiwa penting. Hal itu menunjukan dalam kondisi berpuasa yang identik dengan lemas karena tidak makan dan minum, bukan menjadi alasan penghalang untuk melakukan sesuatu yang lebih produktif. Bukan menjadi alasan untuk mager (malas gerak) tidak beraktivitas.

Bulan Ramadan justru menjadi waktu dimana spiritualitas meningkat dan jiwa memiliki daya dorong lebih kuat menggerakan fisik. Menuliskan jejak sebagaimana para pejuang Islam dan pejuang bangsa melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain.

Ramadan tak sebatas menahan lapar, melainkan momentum transformasi diri untuk menulis sejarah hidup yang lebih mulia. Saat sejarah diukir dengan kesabaran, dan masa depan dibentuk dengan ketaqwaan.

Peristiwa Rengasdengklok menjadi tinta emas sejarah. Bahwa puasa bukan untuk menunjukan kelemahan diri. Ramadan menggodok manusia bermental revolusi, mulai dari diri, bergerak ke masyarakat dan berdampak bagi bangsa dan negara.(*)

Scroll to Top