
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
“Semakin mendekati waktu akhir kita bertemu dan mengenal sesuatu, makin paripurna pengetahuan dan rasa terhadapnya. Dan kita akan mengeluarkan energi maksimal dan pamungkas untuk meraihnya.”
SAYA banyak mendengar dan membaca dari cerita para pendekar, ternyata mereka mengeluarkan jurus dan senjata pamungkasnya saat pertarungan sudah mencapai klimaks dan segala jurus telah diperlihatkan. Pamungkas bermakna yang terakhir, yang mematikan, senjata terakhir yang digunakan sebagai andalan.
Menjelang lebaran banyak pusat perbelanjaan atau belanja online yang melakukan cuci gudang alias diskon besar-besaran di ujung waktu akhir Ramadan. Ini juga bagian jurus pamungkas mereka memanfaatkan momentum dan tradisi belanja lebaran yang luar biasa.
Begitu pula Ramadan kita saat ini. Dua puluh hari telah berlalu. Tentu masih banyak yang belum maksimal, target amal yang belum tercapai, lubang-lubang ke khusyuan ibadah yang menyedihkan, dan saya yakin kita belum mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.
Sepuluh hari terakhir Ramadan menanti kita dengan kemuliaan yang berlipat-lipat. Di mana ada malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan orang-orang shalih sebelum kita sangat memaksimalkan waktu tersebut dengar berburu malam mulia tersebut, meningkatkan energi spiritualnya, mengurangi waktu tidur, menguatkan ikatan persenyawaan dengan amal unggulan, memperbanyak berinteraksi dengan Al-Qur’an dan sebagainya.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadan, carilah pada malam-malam ganjil.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada waktu sepuluh hari terakhir ada ibadah I’tikaf, yang dapat sedikit mengkondisikan peningkatan amal kita. Kaum muslimin berdiam diri di masjid atau musala guna memfokuskan ibadah sehari semalam. Tujuannya untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menepi sejenak dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak merajut pinta dan doa, dan banyak berdzikir ketika itu. Mereka benar-benar mengeluarkan jurus pamungkas di penghujung Ramadan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”. (HR. Bukhari)
Pada hadis lain ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saatnya sepuluh hari terakhir Ramadan benar-benar menjadi momentum istimewa mengeluarkan jurus pamungkas ibadah dan amal unggulan kita. Agar perburuan malam Lailatul Qadar menjadi maksimal, gelar takwa yang menjadi ending bulan ini benar-benar diraih dan juga tak kalah penting resonansi energi Ramadan dapat terasa pada sebelas bulan ke depan hingga bertemu pada Ramadan selajutnya. (*)

