
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش
Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR An-Nasa’i).
Hadits ini mengingatkan dan menekankan pada kita akan pentingnya menjaga nilai-nilai dalam ibadah puasa. Puasa itu sederhana dalam ucapan tapi penuh ujian dalam pelaksanaannya.
Ujian puasa Ramadan adalah ketika siang menemani dalam lapar dan haus memaksa berteduh ditengah teriknya matahari. Antara lapar yang menyerang dan haus yang menggerogoti.
Ramadan itu istimewa, selalu menghadirkan rindu tuk segera berjumpa dengannya, ketika pergi meninggalkan kisah penuh haru, ketika bersama selalu menghadiahkan keberlimpahan berkah tak bertepi. Saat bersamanya selalu memberi ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, keceriaan dan jadi candu tuk setiap kebaikan.
Ramadan juga kadang meninggalkan bekas, tapi hanya sekedar lapar dan dahaga semata. Dari terbit fajar hingga senja menyapa, yang tersisa hanya kehampaan semata yang dipetik. Puasa memang dijalankan tapi tak bermakna apalagi memberi kebahagiaan.
Puasa hanya dijadikan ritual tahunan yang memaksa menahan lapar dan dahaga. Tapi tak memberi dampak kenaikan bagi diri dan juga orang lain, puasa hanya sebagai lelucon semata. Seperti permainan bola yang hanya menyisakan keringat dan akan hilang ketika berhenti.
Puasa yang memberi keuntungan adalah ketika bersamanya akan mengantarkan pada keberlimpahan berkah yang tak bertepi, kebaikan selalu hadir menyapa, setiap kebaikan begitu mudah tuk dikerjakan, ada rindu yang terus menyatu dalam gerak tuk berbuat baik.
Puasa yang selalu menumbuhkan amalan kebaikan yang berlipat dan tak berhenti hingga menjadi candu. Tak ada keterpaksaan dalam berbuat baik, tak ada rasa berat tuk berbagi, tak ada penyesalan ketika sudah memberi. Puasa yang menghadirkan keberkahan.
Puasa yang hanya meninggalkan lapar dan dahaga itu, ketika fajar menyingsing yang terbayang hanyalah penyiksaan dari sang pencipta bagi para pembenci kebaikan. Bangun sahur, tapi bersembunyi pada sanak famili tuk santap siang di warung tepian.
Puasa yang hanya meninggalkan kehampaan, ketika berburu takjil dengan wajah berseri, tapi membohongi diri sendiri ketika siang hari meninggalkan hukum puasa. Ketika puasa dikerjakan tapi sholat diabaikan. Puasa hanya akan meningkatkan luka yang tak punya obat.
Puasa Ramadan yang buntung itu, ketika memberi tuk orang berbuka, tapi kemudian mengungkitnya, selalu berbohong ketika bertutur pada sesama, selalu bergosip ketika berkumpul, bertemu tak memberi kebaikan tapi hanya meninggalkan kerugian.
Jadikan Ramadan ini sebagai jalan menuju keberkahan hidup, ketika bersamanya teruslah berbuat kebaikan, memupuk kebersamaan dalam setiap kebaikan, ketika dia akan pergi selalu dirindukan kehadirannya. Semoga Ramadan ini membawa keberuntungan yang berlimpah bukan buntung yang menyesakkan.

