Iktikaf, Polesan Akhir Sebelum Perjalanan Sebelas Bulan

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

.Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadan.( HR. Bukhari )

Iktikaf adalah berdiam diri di masjid pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan. Berdiam dalam rangka meningkatkan ketaatan pada Allah swt, mengurangi aktifitas keduniaan. Allah menjelaskan dalam ayat-Nya (Tetapi) janganlah kamu mencampuri mereka dengan kamu beriktikaf dalam masjid “ (QS. Al-Baqarah: 187). Bahkan untuk sesuatu yang halal dengan istri halal pun dilarang ketika masuk iktikaf.

Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’adnya mengatakan bahwa hikmah Iktikaf salah satunya adalah untuk membuat seseorang makin cinta kepada Allah swt sebagai ganti kecintaannya kepada makhluk.

Dari Aisyah radhiallahu‘anha beliau mengatakan, “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Aku membuatkan tenda untuk beliau. Lalu beliau shalat subuh kemudian kemudian masuk ke tenda iktikafnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masih dari Aisyah radhiyallahu‘anha, ia berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beriktikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beriktikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hikmah lain dari Iktikaf dapat lebih fokus dan disiplin dalam beribadah karena tidak ada gangguan duniawi yang selama ini menjadi penghambat. Sebelas bulan dua puluh hari dipenuhi dengan kesibukan yang kadang mengikis waktu untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Lain waktu menomor sekiankan hak Allah yang seharusnya menjadi perioritas utama. Iktikaf mengembalikan kita pada mode awal sebagai seorang hamba yang sebenar-benarnya hamba.

Saat iktikaf kesempatan dan suasana sangat mendukung untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi diri. Merenungi perjalanan selama ini yang telah berlalu, mengingat dan menghitung dosa yang diperbuat, memohon ampunan dan bertobat dengan sejujur-jujurnya. Hingga akhirnya mendapatkan ketenangan dan optimis menapaki sebelas bulan kemudian dengan jiwa yang suci dan baru.

Sepuluh akhir Ramadan saat Lailatul Qadar turun mari kita tingkatkan ibadah malam dengan beriktikaf. Ketika malam seribu bulan itu turun jadikan saat itu waktu kita beribadah maksimal kepada-Nya.

Jika diibaratkan produk, maka sepuluh hari terakhir Ramadan (dengan iktikaf nya) adalah tahapan finishing dan cek akhir yang tentu akan dilakukan lebih telaten. Jika kita lalai ditahap ini, maka kekurangan ditahap sebelumnya akan lolos begitu saja hingga beralih ke tangan konsumen dan berpengaruh besar pada kepercayaan masyarakat.

Polesan akhir ini sebagai pengontrol kualitas. Tempaan akhir, sehingga sentuhan pamungkas diberikan pada fase ini.Agar benar-benar bermutu dan dapat memutari sirkuit hidup tahunan selama sebelas bulan, sebelum berhenti kembali pada Ramadan selanjutnya. (*)

Scroll to Top