Seharusnya Sibuk Mengisi Malam Lailatul Qadar, Bukan Repot Mencari Tanda

Oleh: Iwan Wahyudi

Penulis Buku “Energi Ramadan”

Saat akan memasuki Ramadan ramai khalayak baik yang benar-benar ahli maupun sekadar partisipasi meramaikan proses penentuan hilal. Tanda awal bulan di ufuk masuk bulan suci telah tiba.

Bila tanda sudah shahih, baru gegap gempita beribadah di mulai dengan shalat Isya, tarawih dan seterusnya.

Atau seperti anak sekolah dan mahasiswa kampus. Bila sudah keluar jadwal ujian semester atau ujian skripsi akan nampak perbedaan volume dan frekuensi belajar. Mode semangat 45 menyala terus. Karena jelas hari apa ujiannya.

Bayangkan jika itu berlaku untuk malam Lailatul qadar. Para ulama dan pakar astronomi sibuk meneropong langit guna memastikan ketepatan waktu malam seribu bulan itu muncul.

Bila ada perbedaan, cuma satu hari sebagaimana penetapan awal dan akhir Ramadan. Jika tidak besok berarti lusa. Jadi sudah bisa diprediksi dengan presisi dua hari itu saja. Setidaknya mereka bisa gas full ibadah dua malam aja. Pasti dapat dan dijamin tidak lolos.

Atau ala pelajar dan mahasiswa ujian, yang jadwal malam Lailatul qadar sudah keluar sepekan sebelumnya bahkan sudah ditetapkan pada awal tahun ajaran atau semester. Asyik bukan? peluang mendapatkan malam lailatul qadar lebih besar.

Tapi pernahkah kita mendapatkan dalil persis jadwal malam mulia itu? Selain kata kunci 10 hari terakhir Ramadan dan malam ganjil di antaranya. Atau tanda bahwa nanti malam Lailatul qadar, sudah shahih dipastikan sore ini atau sejak kemarin seperti melihat awal bulan baru di ufuk.

Malam Lailatul qadar seperti ujian dadakan anak sekolah. Hari ini ujian, saat itu juga di umumkan. Atau setelah menyelesaikan soal latihan dan dikumpul baru di umumkan “Latihan soal yang barusan dikumpulkan ini sebagai nilai ujian semester”.

Banyak dalil yang menjelaskan suasana alam malam Lailatul qadar dan pagi harinya. Sunyi, tenang, damai, tidak panas, matahari bersinar hangat dan seterusnya.

Artinya Lailatul qadar itu kita ketahui saat malam mulia itu terjadi atau keesokan pagi jejaknya terasa.

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah berkata,

“Ada beberapa dalil yang membicarakan mengenai tanda-tanda Lailatul qadar. Namun itu semua tidaklah nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fath Al-Bari, 4: 260)

Kita tidak perlu sibuk mencari tanda. Malam ini ganjil atau genap, malam ini tenang atau hujan, malam ini adem atau angin kencang. Baru mau ibadah mengisi malam, berburu Lailatul qadar.

Apalagi di Indonesia ada perbedaan sehari memasuki Ramadan antara pemerintah dan Muhammadiyah misalnya. Nah, pasti ada perbedaan malam ganjil 10 hari terakhir versi keduanya. Semua hari ganjil, tidak ada genap atau semua genap tanpa ganjil. Lailatul qadar tidak turun dua malam bukan?

Salah satu hikmah dirahasiakan waktu pasti turunnya malam Lailatul qadar adalah agar kita benar-benar tidak diskriminatif beribadah satu malam tertentu bulan Ramadan saja, lalu hari lain dianggap biasa saja.

Selain itu juga menguji kesungguhan kita, seberapa besar mengisi bulan Ramadan dengan ibadah unggulan sebulan penuh. Menghargai kemuliaannya dengan kemuliaan beramal yang berbeda dengan bulan lainnya.

Saatnya kencangkan ikat pinggang, isi semua malam 10 hari terakhir, yakin salah satunya pasti malam Lailatul qadar dengan tanda yang tentu kita sudah paham dirasakan pada malam itu hingga pagi menjelang. (*)

Scroll to Top