
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Rasulullah SAW bersabda: “قيِّدُوا العِلمَ بالكِتابِ” yang artinya “Jagalah ilmu dengan menulis”.
Semua serpihan kata akan berubah jadi sebuah oase yang bermakna jika berada pada ujung jari dan lisan yang tepat. Ketika kata mulai dirangkai akan membentuk frase yang berbaris sejajar menjadi kalimat yang begitu rapih dan menggugah hati, menggetarkan jiwa, dan membangkitkan rasa.
Rasa ingin tahu semakin besar jika kata itu terus dirangkai tanpa jeda, dia akan terus muncul dan hadir dalam ruang yang sepi, sunyi, sempit, bahkan hingga di keramaian yang tak pernah jeda. Ketika uang mulai diam dan sunyi menemani, kata akan berubah makna jadi sebuah paradoks tentang ketakutan.
Ketika kata itu menggema dari lisan di ruang yang riuh bergemuruh, akan menjadi bara yang menyala, jadi suluh di tengah kegelapan malam, menguburkan ego, menghilangkan keangkuhan dan melegakan jiwa yang sedang rapuh.
Kata dari jari juga lisan akan membakar semangat dalam diam juga riuh, dalam sepi juga ramai, dalam lengang juga padat, dan dalam remang juga bercahaya. Semua akan menjadi apa adanya pada siapa yang akan bermain kata.
Ketika kata akan berubah jadi sebuah paragraf panjang yang rapih dalam lembaran-lembaran kertas, akan memberi motivasi, inspirasi, juga gagasan baru bagi setiap pembaca yang gila. Gila bukan berarti mengusik ketenangan orang lain di tengah hiruk pikuk keramaian apalagi sunyi. Tapi gila dalam menggali dan mendiskusikan kembali setiap kata yang tertuang dalam lembaran usang bernama buku.
Biarkan kata itu mengalir bagai air bah dalam sunyi, diam, ramai, dan sepi. Dia akan membentuk polanya sendiri dari setiap isi kepala yang memungutnya. Kata itu akan jadi indah kala ada nuansa sastra yang hadir di tengah jeda kalimat, seolah memberi seteguk air di tengah gurun pasir yang panas tak berkesudahan.
Kata akan jadi sembilu kala terucap oleh para pakar yang haus akan kajian olah otak, mereka tak pernah henti dan selalu haus, akan menyayat setiap celah mengiris menjadi serpihan yang memberi rasa nyaman bagi setiap penikmat santapan akal yang sehat.
Jangan biarkan kata itu mengendap dalam kubangan akal, tanpa gerak seolah mati oleh rasa dalam diri. Biarkan kata itu mengalir membelah sunyinya malam, menyusuri lorong-lorong gelap yang makin pekat, jangan biarkan dia menepi walau sejenak, dia akan hilang dan tak akan pernah kembali walau hanya sekedar menyapa.
Sapalah dengan kata yang lembut dalam tutur yang bermakna, menasehati dalam setiap lantunan kata penuh kebijaksanaan, mendekap dengan kata yang meluluhkan keangkuhan, rangkullah dengan kata penuh kedamaian, selimuti dengan kata penuh kejujuran, dan payungi semuanya dengan kata janji yang terus kan membuahkan kebaikan tak bertepi.
Tepian kata akan mengantarkan pada kerinduan, rindu yang terus hadir dalam aduan kata di kesunyian malam ketika sajadah di bentangkan lalu sujud bersimpuh dengan kata dalam doa agar terus dalam penjagaan Rab-Nya.
Kata akan memberi kebahagiaan, kata juga akan menghadirkan senyum, dari kata akan menumbuhkan cinta, kata itu bisa jadi duri tajam yang menancap hingga kedalam tepian hati, kata dari setiap huruf dapat mengeratkan genggaman kasih sayang, dan kata adalah oase ilmu di tengah hamparan gurun pasir bagi para pencari ilmu yang kehausan akan dialektika keilmuan.
Jangan biarkan kata itu hilang ditelan oleh waktu, kata Rasulullah SAW dalam pesan sederhananya “Jagalah ilmu itu dengan menulisnya,” dengan menulis setiap kata akan memberi makna yang tak terhingga bagi para pencari ilmu yang haus akan sebuah pesan.
Menulis itu pekerjaan otak yang terus terasah dengan dialog sederhana bersama buku. Jangan takut untuk merangkai kata dengan menuliskannya. Dengan menulis kita akan terus ada untuk dikenang. Imam Syafi’i juga mashur dengan perkataannya, “Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat”.
Setiap langkah kita akan menghadirkan kata, setiap kata akan terus ada dan hadir dalam setiap kondisi. Ikatkah kata itu dengan menuliskannya. Seperti yang dikatakan oleh Imam Asy-Sya’bi, “Apabila engkau mendengar sesuatu, maka tulislah sekali pun di tembok”.
Setiap kata akan merubah sesuatu sesuai dengan siapa yang mendengarkan kata itu. Kata akan berbuah manis dan bermakna apabila keluar dari mulut orang yang jujur dan amanah, tapi dia akan berubah jadi petaka bila keluar dari mulut para pembenci dan pendusta. (*)

