Anak Rantau Dalam Belenggu Rindu

Oleh: Junaidi Ana

Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”

 “Pergilah, maka akan kamu temukan orang seperti yang kamu tinggalkan. Bersungguh-sungguhlah, karena kenikmatan hidup itu muncul setelah adanya kepayahan.” (Imam Syafi’i)

Dunia ini adalah panggung hiburan bagi anak rantau untuk terus berkreasi dan memantaskan diri kala mudik kembali pada alam yang abadi. Ketika merantau itu pilihan, maka mudik adalah keharusan. Jika mudik itu keharusan maka bekal untuk dibawa mudik adalah sebuah keuntungan yang harus di bawa. Karena kata Allah “Sebaik-baik bekal adalah takwa” dan takwa adalah bekal terbaik dan istimewa. Dunia ini sementara akhirat adalah kelak.

Merantau, di sana ada adagium tentang rindu, cinta dan juga rasa serta perjuangan. Merantau membentuk kepribadian seseorang akan hidup dalam kesendirian, kemandirian, dan hidup bebas tapi terawasi oleh ketiadaan. Bias rindu akan selalu tumbuh dan hadir mengetuk relung hati ketika rasa ingin pulang menyapa dalam keheningan. Tak ada kisah yang terlepas dari anak rantau yang begitu indah tak punya celah rindu. Jika itu ada, mungkin hanya ada dalam kisah novel yang tak bertuan.

Ketika merantau, kita akan menemukan keragaman dalam satu genggaman, perbedaan melebur dalam bejana kehidupan, pelukan menyatu dalam kesendirian, tertawa selalu hadir dalam ketiadaan, sedih kadang menyapa dalam keheningan, dan menangis selalu menemani dalam diam yang mencekam. Semua ini hanya akan dirasakan kala kita merantau.

Tanah rantau, disana banyak cinta yang akan hadir, kita menemukan banyak wajah yang begitu rupawan hinggga yang sangar, terus silih berganti meyapa lalu pergi atau mungkin tertahan walau sejejak tuk meneguk kopi di kedai pinggiran, berbagi kisah sesama anak rantau, melerai lelah dalam kepenatan menata hidup, dan tertawa dalam kegetiran yang tersembunyi oleh senyum sendu.

Dalam perjalanan anak rantau, rindu itu selalu menjadi tali yang membelenggu dalam diam, cinta menjalar bagai benalu menjadi pasungan yang terus menguat dan mengakar, dan rasa itu terus hadir dalam dekapan kasih sayang yang tak pernah usai walau terhalang oleh pandang. Namun waktu mengajarkan untuk terus bertahan dalam gempuran rindu, cinta dan rasa yang tak berbelas dalam kurun yang tak menentu.

Ketika merantau, rasa tuk bale (balik) kampung itu terus mengundang agar pulang walau sejenak, menghampiri mengetuk dalam diam di sela renung pada sudut sepi, ada cerita yang belum usai, ada kisah yang menjeda, ada episode yang masih sedang tayang, dan masih ada alur yang tertahan oleh keheningan. Rasa itu kian kuat dalam sapanya, terus menggema dan terngiang dalam hembusan angin kala malam yang sunyi.

Dari tepian rindu yang dalam, kisah yang terus berlanjut dalam drama yang tak ada usai, di tengah riuh ramai kota yang penuh kebisingan, pengap oleh asap knalpot kendaraan, riak oleh suara teriakan anak jalalanan, hening oleh gelap yang menyapa keramaian, dan lengang oleh padatnya jalanan ketika petang mulai menyapa dan malam perlahan beranjak gelap.

Anak  rantau selalu punya kisah tersendiri yang terus di pendam dalam diam, walau di tengah hiruk pikuk keramaian. Perantau akan selalu mempunyai cara untuk menyendiri tuk mengobati rindu, menemani sepi tuk mengobati rasa yang terus menyapa tuk bale kampung, mengurai cerita yang terus berubah dari episode ke episode yang lain. Dalam ceritanya ada pilu yang mmenyelimuti, ada duka yang menemani, ada tawa yang menyertai, ada senyum yang terus hadir bersama, dan ada gelisah yang kadang datang menghampiri.

Di tengah kegelisahan ada riuh yang hadir memberi warna bagi anak rantau. Mereka punya cara sendiri tuk saling menghibur diri walau dalam keadasan terjepit oleh kekurangan. Tapi anak rantau yakin bahwa, hanya keberanian yang mampu menepis gelisah untuk menembus keraguan dalam menggapai harapan di ujung jalan perjuangan.

Dari gurun lembah Mekah ke Yatsrib (Madinah), beliau berjalan dengan langkah yang pasti dalam hijrahnya bersama sahabat terbaik yang kemudian menjadi mertuanya juga. Menyusuri gurun pasir bermandikan debu yang menyapu di teriknya mentari gurun, beliau melangkah dengan gagah penuh keyakinan akan sebuah peradaban baru masa depan umat manusia. Meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat pembaringan terakhir sang ayahanda untuk menata bata peradaban baru umat manusia.

Dari tanah rantaulah Rasulullah membangun tatanan dunia baru dengan meletakkan fondasi Islam dari tanah Madinah. Di tanah rantau beliau selalu rindu akan tanah kelahiran, dimana beliau tumbuh dan menerima risalah kenabian dan memulai membuka gerbang baru umat manusia dengan menerima wahyu pertama sebagi cikal bakal agama yang mulia itu bermula.

Pergilah menjauh untuk menata kehidupan yang mungkin dari sanalah kesuksesaan itu bermula. Merantau itu memberi peluang untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh menghadapi ujian dan terhindar dari zona nyaman yang terus menghantui. Karena setiap yang nyaman itu sesungguhnya sedang meruntuhkan perlahan menuju dasar kehancuran.

Ketika langkah untuk merantau, berniatlah untuk berhijrah, dengan berhijrah ada ruang untuk berbenah, berubah, dan menatap masa depan yang genilang. Ada harapan yang sedang dipahat, ada mimpi yang sedang dikejar, ada senyum yang sedang ditata, ada rindu yang sedang menunggu, dan ada cinta yang perlahan tumbuh dalam setiap tapak.

Pergilah merantau, menjauhlah dari tempat di mana setiap tapak itu bermula, tumbuh dalam riak tawa, gemuruh teriakan, dan canda yang tak berkesudahan yang mengantar setiap peluh itu hingga mengering. Di tanau rantau setiap episode itu akan bermula dan hidup tanpa guratan dari canda, tapi yang ada adalah pahatan gelora semangat yang terus tumbuh di ruang yang berbeda kala tubuh itu tergolek dan bangkit kala pagi menyapa.

Perantau itu pejuang, jika menuntut ilmu atau mencari nafkah mereka sedang berjuang untuk memantaskan diri juga menjaga maruah keluarga. Berhijrah meninggalkan kampung halam untuk bergelut dengan debu jalanan, menahan lapar, menahan cibiran, bertahan di tengah badai, dan bertahan di tengah kemelut dunia yang tak berkesudahan. Hanya para perantau yang merasakan bagaimana bertahan hidup di tengah perbekalan yang menipis dan nyaris tak ada.

Saat merantau, di sanalah kita akan belajar tentang kesendirian. Sekolah kehidupan akan menempa diri, melatih mental, mengasah kemampuan, dan sekolah paling realistis dalam tapak kehidupan. Imam Syafi’i menyapampaikan bahwa “Merantau adalah sekolah kehidupan,” di mana setiap tapak langkah para perantau banyak pelajaran hidup yang didapat dan disitulah pembelajaran yang sesungguhnya didapatkan.

Ikutilah apa yang Allah perintahkan dalam setiap tapak menuju petualang kehidupan di tanah rantau. Jika perintah-Nya dijalankan dan larangan-Nya ditinggalkan, maka setiap mimpi akan berbuah indah dan dimudahkan. Setiap hajatan anak rantau pasti penuh tantangan dan hambatan. Karena ketika azam tertancap menghujam dalam jiwa, para perantau pantang untuk pulang sebelum berhasail.

Dunia adalah tempat rantau anak Adam, sesungguhnya tempat untuk kembali adalah akhirat kelak. Dunia tempat menanam benih kebaikan yang mengakar lalu menjelma menjadi amal kebajikan tuk di bawa pulang ke alam abadi kelak. Setiap yang bernyawa akan merasakan yang namanya kematian, dan kematian adalah langkah awal putusnya setiap nikmat duniawi bagi para perantau di alam fana ini.

Jadilah perantau yang hadirnya jadi suluh untuk sesama, bukan jadi bara tuk membakar dalam diam. Ikutilah perintah dari-Nya dan jauhi apa yang dilarang-Nya. Jadilah perantau yang terus dikenang kebaikannya dan terus di doakan dalam setiap waktu, bukan menjadi perantau yang dibenci oleh penduduk bumi dan ditolak oleh yang kuasa kelak. Teruslah tersenyum untuk perantau.

Berani keluar dari zona nyaman? MERANTAULAH…! Dengan merantau kita akan belajar makna kehidupan yang sesungguhnya. Dari merantau kita akan merasakan indahnya hidup dalam keragaman.(*)

Scroll to Top