
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dari masjid kita mulai menata bata peradaban, membangun sebuah bangsa dari titik pijak dalam tapak yang masih sunyi. Dari titik nol kita mulai melangkah menuju kejayaan bangsa. Peradaban besar yang telah dibangun oleh Rasulullah dan para sahabat bermula dari bilik masjid. Dari masjidlah peradaban bermula.
Ketika masjid menjadi pusat peradaban manusia, akan terasa perubahan yang sesungguhnya dalam sebuah bangsa. Ketika hijrahnya Rasulullah ke Madinah, beliau mulai membangun masyarakat Madani yang bermula dari masjid. Masjid itu suluh bagi manusia dan peradaban dunia.
Ketika Abdurrahman Ad-Dakhil menaklukkan Andalus dan menjadi khalifah, lalu memimpin peradaban Islam di sana, saat itulah Eropa takluk dalam dekapan Islam. Tak ada permusuhan yang hadir, yang ada adalah persaudaraan, persamaan, kesatuan, dan kebersamaan dalam membangun peradaban sebuah bangsa (dinasti).
Ketika Urtugrul mulai menyusun bata peradaban Utsmani, dia memulai dari tempat yang kecil di Turki. Dari sanalah cikal bakal kekhalifahan Utsmani tumbuh dan memimpin peradaban dunia.
Keruntuhan kekhalifahan Islam terjadi saat runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah. Saat itulah wajah Islam meredup. Umat Islam mulai menjauh dari ajarannya. Masjid semakin sepi, walaupun tetap dibangun dengan kemegahan ornamen yang menghiasi setiap celah dinding dan kubahnya.
Banyak yang bertetangga dengan masjid, tetapi enggan hadir ketika panggilan dari-Nya dikumandangkan. Ujian berat adalah ketika azan Subuh dikumandangkan, tetapi kita terus asyik dalam mimpi panjang, dalam dekapan bantal dan aroma iler yang begitu menggoda daripada panggilan cinta-Nya yang begitu syahdu.
Begitu bangga dan yakinnya kita bahwa napas yang masih terus menyatu dalam jiwa ini adalah hadiah untuk kita. Namun, kita lupa bahwa ajal itu lebih dekat dari apa pun.
Bayangkan, kawan, gempa yang menimpa saudara kita di Pulau Flores, NTT, dan sekitarnya terjadi di waktu menjelang Subuh. Ketika ada yang sudah terjaga dan ada yang masih terlelap, Allah menghadiahkan ujian itu. Semua ujian Allah hadirkan untuk kita agar tetap terjaga dan sadar akan nikmat waktu yang tak akan terulang lagi.
Allah mengingatkan kita dalam Kalam-Nya, Surah Al-A’raf ayat 97:
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?”
Ketika mimpi sedang mencari jalan keterasingan, Allah titipkan pesan cinta-Nya agar tetap terjaga dalam tidur yang hanya sesaat kala ruh masih menyatu dengan jasad. Kita tidak bisa lari dari setiap ujian yang Allah hadiahkan kepada kita dalam kondisi apa pun. Dalam keadaan terjaga atau terlelap, ujian dari-Nya akan terus menghantui setiap desah napas kehidupan.
Saat panggilan Subuh menggema, tetapi kita enggan untuk melangkah menuju rumah-Nya yang paling mulia dan ternyaman, apakah kita hanya ingin Dia datang ketika jasad sudah terbujur kaku untuk disalatkan?
Waktu paling berat dalam memenuhi panggilan cinta-Nya adalah ketika kumandang azan Subuh terdengar sayu di gendang telinga, tetapi masih dikencingi oleh setan dalam tarian kemelut duniawi, dengan mimpi menjadi sang miliarder yang tak nampak nyata.
Masjid itu pusat peradaban Islam, pusat peradaban dunia, dan dari masjid itu pulalah fondasi kekuatan sebuah peradaban baru dimulai. Masjid menyatukan yang tercerai, merekatkan yang terserak, dan memintal persaudaraan tanpa sekat untuk menuju kejayaan sebuah bangsa.
Ketika hanya suara panggilan azan dan tilawah juga sholawat dianggap sebuah kebisingan yang mengganggu tidur kita, lalu suara apa yang akan membuat kita tenang dalam detak jantung yang akan terhenti oleh-Nya setiap waktu?
Apa yang kita banggakan dengan nikmat telinga yang akan ditulikan oleh-Nya, dan apa yang kita anggap sangat berharga jika mata dibuatkan oleh-Nya?
Ketika pesan kebaikan kita tolak, maka Allah mengingatkan kita dalam pesan cinta-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi kamu (Muhammad), beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6)
Ayat ini secara tidak langsung memberi peringatan kepada kita semua. Walaupun di sini disampaikan untuk orang kafir saja, hari ini banyak di antara kaum muslimin pun enggan diberi nasihat tentang kebenaran seruan dari-Nya.
Masjid tempat paling baik dan terbaik, dan tempat paling jelek adalah pasar. Masjid tempat semua kebaikan bermula dan dimulai, sedangkan di pasar banyak terjadi kecurangan dan manipulasi jadi sebuah kebiasaan.
Maka, hadirlah dalam seruan dari-Nya kala kumandang azan menggema dan tilawah dibacakan.
Jangan pernah lelah dalam memenuhi seruan-Nya hingga menjadi candu untuk setiap tetes air kebaikan dan menjadi wasilah kebaikan menuju tempat parkir terbaik di sisi-Nya. Maunya masuk surga, tetapi ketika mendengar azan malah tetap lelap dalam mimpinya.
Mari makmurkan rumah Allah dalam setiap panggilan cinta-Nya hingga terus dalam dekapan-Nya.
Masjid adalah pusat peradaban, dan dari masjid sebuah peradaban bermula. (*)

