
Oleh: Junaidi Ana
Penulis Buku “Goresan Petuah Bijak Diujung Pena Rindu”
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)
“Ketika kebencian menjadi santapan hidupmu, maka sampai mampus pun kau tak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan”
Pernahkah kita menengok sejenak melihat sejarah masa lalu ketika Fir’aun menduduki tahta kerajaan Mesir kala itu? Untuk menjaga kekuasaanya, dia tidak ingin ada yang menyaingi dirinya dan menurut ramalan dari para peramal kerajaan, akan lahir seorang anak laki-laki yang dapat mengguncang posisinya, sehingga setiap bayi laki-laki yang lahir akan di bunuh dan menjadi ketakutan tersendiri bagi setiap ibu hamil yang akan melahirkan.
Fakta yang terjadi saat itu adalah, nabi Musa sang bayi ajaib menjadi anak asuh sang raja yang kejam. Namun kebencian Fir’aun tidak pernah pudar hingga Musa kecil tumbuh dewasa dan mampu meruntuhkan tahta kerajaan Fir’aun dengan kejadian yang di abadikan dalam kitab suci umat Islam (Al Qur’an), tongkat Musa membelah lautan, Musa dan para pengikutnya melintasi dan dikejar oleh Fir’aun dengan bala tentaranya, namun takdir tidak berpihak padanya. Atas izin pemilik semesta Fir’aun ditenggelam oleh-Nya dan menjadi pelajaran bagi umat manusia yang hadir setelahnya bahwa keserakahan tidak akan pernah bertahan lama dalam episode kehidupan.
Tengoklah juga kisah paman nabi Abu Lahab yang begitu sangat membenci Rasulullah Saw. hingga namanya di abadikan dalam Al Qur’an. Kebenciannya mengantarkan dia dan juga istrinya menuju tempat peristirahatan yang sangat menyakitkan di Yaumil akhir.
Kebencian dalam kehidupan sering terpicu oleh berbagai hal sepele dan remeh, namun semua itu adalah permulaan dari ujian hidup yang membuat kita sebagai manusia akan menemukan kehidupan yang penuh penderitaan. Kebencian jika dipelihara akan menjadi benalu yang mematikan akal sehat.
Kisah Fir’aun dan Abu Lahab di atas hanya sekelumit kisah tentang kebencian yang berakhir pada kehancuran dunia juga akhirat. Fir’aun berakhir dengan ditenggelamkan dan Abu Lahab akan menjadi penghuni neraka juga istrinya akan menjadi suluh api baginya.
Jika kisah ini menjadi pelajaran bagi kita yang hidup di zaman serba bisa dan canggih, kebencian itu sering hadir ketika keinginan kita tidak dapat terpenuhi dengan baik, namun tetangga dapat terpenuhi, maka hadirlah kebencian itu dan mulai tumbuh menjadi benalu. Atau ingin menjadi seseorang yang lebih dan ingin dihormati, disegani, ditokohkan, dan atau jadi primadona, namun semua itu sirna oleh kehadiran orang lain, maka kebencian itu akan hadir dan terus menemani.
Teknologi semakin canggih, kebencian antar sesama sering di lampiaskan di jagat maya pada orang yang mungkin kita juga tidak pernah ketemu secara fisik, dan bahkan mungkin di sela kehidupan orang yang kita benci sedang bersimpuh mendoakan kita yang yang banyak alpa dan dosa.
Kebencian sering hadir dari lisan-lisan orang yang tidak menginginkan kebaikan yang orang lain dapat dan tersemat pada orang itu, namun kita sering lupa untuk memantaskan diri agar setidaknya mendapat doa dari penduduk bumi yang baik-baik. Yang terus hadir adalah kebencian ketika orang lain lebih baik dari kita dan selalu mendapatkan penghargaan orang lain.
Jangan jadikan kebencian menjadi teman bahkan menyatu dalam darah kehidupan kita. Karena kebencian itu penyakit yang perlahan akan terus membunuh akal sehat dan kewarasan kita sering hilang olehnya. Kebencian sering hadir dalam momen-momen yang mungkin sederhana tapi kemudian tumbuh dan berkembang menjadi besar ketika menjadi gosip dalam obrolan di tongkrongan warkop atau di kedai para pejajak sayur.
Kadang kebencian itu hadir bukan hanya dari orang yang kurang waras, tapi sering hadir dari orang-orang yang waras akal sehatnya dan mungkin dari segi pendidikan bagus banget, namun kematangan dalam mengelola emosi yang tidak baik, sehingga kebencian sering menjadi teman dalam nadi kehidupannya.
Jangan biarkan setan menggerogoti akal sehat kita hanya karena setitik kebaikan orang lain yang memicu kebencian kita padanya. Kata Gus Baha “Buat setan itu kejang-kejang dengan setiap kebaikan yang kita lakukan, jangan biarkan kebencian hadir dalam kehidupan kita.”
Bijaklah dalam menjaga lisan dan menata hati dari drama kehidupan yang akan terus bergulir hingga ada atau tidaknya kita bermukim di dunia ini. Karena lisan sering jadi petaka bagi kita dalam dimensi kehidupan. Teruslah berbuat baik hingga jadi candu dalam hidup. (*)

