
Oleh: Syamsudin Kadir
Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”
PADA Ahad 1 Maret 2026, Masjid Maslicha mengadakan rangkaian shalat tarawih dan dihadiri oleh ratusan jama’ah dari warga di kompleks Perumahan Bumi Arumsari, Talun, Cirebon, Jawa Barat. Bapak Afif Susanto, S.Pd., M.Pd. didaulat menjadi penceramah kuliah tujuh menit atau kultum yang berjudul “Sabar Di Bulan Shaum; Sabar Menghadapi Ujian dan Musibah” kali ini.
Mengawali, penceramah menyampaikan bahwa takdir setiap manusia itu berbeda-beda. Kita diciptakan dalam takdir yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ramadan bisa dikatakan sebagai madrasah kesabaran. Shaum itu bukan sekadar sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana melatih jiwa kita untuk sabar menghadapi segala keadaan. Baik ketika kita mendapatkan nikmat maupun sabar ketika kita dilanda musibah.
Selanjutnya, penceramah membaca hadits Rasulullah ﷺ tentang shaum sebagai tameng. “Apabila salah seorang dari kalian di suatu hari sedang shaum, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbuat kebodohan dan sia-sia. Bila dia dicaci oleh orang lain atau diperangi, maka hendaklah dia mengatakan, “Sesungguhnya saya sedang shaum.” (HR. Muslim)
Menurut penceramah, hadis tersebut mengajarkan bahwa shaum adalah tameng. Tameng ketika kita mengalami amarah, tameng dari hawa nafsu dan tameng dari perbuatan dosa. Ketika kita menjalani shaum setidaknya kita dilatih untuk menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tapi menahan emosi dan ego kita masing-masing.
Sabar, kata penceramah, mencakup tiga hal, yaitu, pertama, sabar dalam ketaatan. Bagaimana kita tetap istikomah meskipun kita dalam keadaan lelah dalam kehidupan ini. Kedua, sabar ketika kita menjauhi berbagai macam perbuatan dosa dan maksiat. Kita menaham diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang atau yang diharamkan oleh Allah. Ketiga, sabar dalam menghadapi segala macam ujian atau musibah yang ditimpakan kepada kita dalam rangka menaikan level kita sebagai umat yang beriman.
Namun tidak jarang, kita lupa bahwa sabar juga mencakup sabar ketika kita mendapatkan kenikmatan dari Allah. Seperti saat rezeki kita lancar, jabatan kita naik, dan usaha berkembang pesat. Pertanyaannya, bisakah kita tetap rendah hati, apakah kita tetap istikomah dalam beribadah? Karena tidak sedikit yang tidak sabar ketika mendapatkan kenikmatan, sehingga tidak rendah hati dan lalai untuk beribadah.
Apa yang disampaikan penceramah, sama dengan apa yang ditulis Ibnu Abid Dunya (208-281 H) dalam karyanya “as-Shabru wa Tsawâb ‘Alaihi” yang menjelaskan bahwa sabar itu terbagi menjadi tiga, yakni, pertama, sabar atas musibah. Kedua, sabar dalam menjalani ketaatan. Ketiga, sabar atau menahan diri dari laku kemaksiatan. Pada halaman 30 kitab tersebut, Ibnu Abid Dunya menulis begini, “Sabar ada tiga tingkatan; sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan.”
Penceramah pun melanjutkan dengan membaca firman Allah dalam al-Qur’an, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az. Zumar: 10)
Ramadan mengajarkan bahwa setiap ujian atau musibah apa pun yang menimpa kita itu adalah cara Allah untuk meningkatkan derajat di hadapan-Nya. Rasa lapar dan haus yang kita rasakan saat siang hari pada Ramadan mengandung pesan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Surga membutuhkan orang-orang yang penuh kesabaran.
Bayangkan saja, dalam sehari rerata kita menahan lapar dan haus, maka mengapa pula kita tidak sabar ketika Allah menguji kita. Shaum adalah perintah Allah dan ujian kehidupan apapun bentuknya berasal dari Allah juga. Semua itu adalah cara Allah untuk menaikan derajat kita sebagai orang beriman.
Ramadan adalah kesempatan emas bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih tenang dan telaten dalam menjalankan berbagai ibadah dan amal saleh. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi menjadi momentum pengendalian diri kita untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Semoga kita selalu menjadi hamba Allah yang sabar dan takwa kepada-Nya! (*)

