
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
“Demi Allah, sesungguhnya engkau (wahai kota Mekah), adalah negeri ciptaan Allah yang terbaik, sekaligus tanah ciptaan Allah yang paling aku cintai. Demi Allah, kalau bukan karena aku di usir darimu, aku tak akan meninggalkanmu.” (HR. Ibnu Majah)
SUATU ketika ada sahabat bernama Ashil Al-Ghifari baru saja kembali dari Mekah (Tanah Haram). Ketika hendak menemui nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah ia ditanya oleh Aisyah ra. istri Rasulullah, “Wahai Ashil, bagaimana keadaan Mekah sekarang?” Ashil menjawab, “Aku melihat Mekah subur wilayahnya, dan menjadi bening aliran sungainya.”
Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari kamar dan menanyakan hal yang sama, “Wahai Ashil, ceritakanlah padaku bagaimana keadaan Mekah sekarang?” Ashil kemudian menjawab, “Aku melihat Mekah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (nama jenis pohon atau rerumputan), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (sejenis tanaman yang biasa digunakan untuk menyamak kulit).” Kemudian dengan penuh rindu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berucap, “Cukup, wahai Ashil, jangan membuat kami bersedih!”
Kampung halaman adalah tempat di mana kita berasal dan melekatkan namanya pada diri setiap menjawab pertanyaan, “Asalnya dari mana?” Sebagian besar kita menghabiskan masa anak-anak di kampung halaman, sebagian waktu remaja bahkan hingga dewasa tak lepas dari kampung halaman. Di sana tersimpan begitu banyak kenangan dan cerita diri, berkumpul para keluarga dan teman-teman ruang berinteraksi di masa lalu.
Demikian pula halnya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mulai sejak lahir, melalui masa kanak-kanaknya, tumbuh menjadi remaja hingga menerima wahyu dan risalah kenabian saat dewasa, semua di Mekah. Sehingga wajar sebagai seorang manusia memiliki rasa kerinduan pada Mekah ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah berhijrah ke Madinah.
Begitu juga kita, sebagian besar masyarakat Indonesia, mengambil waktu lebaran Idulfitri sebagai waktu pulang kampung atau mudik. Momentum silaturahim kolosal berbagi kebahagiaan dan kemenangan setelah sebulan penuh ber-shaum Ramadan.
Mudik, identik dengan lebaran. Aktifitas para perantau atau pekerja migran untuk kembali sejenak pulang kekampung halamannya. Konon, mudik berasal dari kata bahasa Jawa ngoko yaitu mulih dilik yang berarti pulang sebentar.
Di saat memasuki 10 akhir Ramadan, aktifitas mudik mulai terjadi. Saat mudik semua sanak saudara diperantauan yang menyebar kembali berkumpul bersama keluarga di tanah kelahiran. Selain itu, sebagai sarana menjenguk dan berkumpul dengan orang tua sebagai wujud birril walidain – berbakti kepada orang tua.
Mobilitas manusia saat mudik mencapai ratusan juta jiwa. Merujuk data dari https://www.cnbcindonesia.com/news (23 April 2025), Semasa mudik 2025 terdapat pergerakan 54.89% penduduk Indonesia atau sebesar 154,62 juta orang yang melakukan aktivitas pulang kampung, Hal ini mengalami penurunan sekitar 4,67% atau 7,6 juta orang dibanding tahun 2024 sebelumnya yang mencapai 162,2 juta orang.
Selain mobilitas perantau dalam perjalanan mudik, juga terjadi permutaran uang dari kota ke desa. Jika para perantau tidak berkesempatan pulang biasanya menitipkan uang kepada keluarga di kampung halaman melalui pemudik sesama perantuan dan satu kampung halaman. Zaman sekarang malah dengan mudah langsung mentransfer sejumlah dana tersebut. Perpindahan uang saat puasa hingga lebaran selain dari rantauan ke tanah kelahiran, juga terjadi dari TKI di luar negeri ke tanah air, angkanya hingga triliunan rupiah.
Kerinduan yang terasa akan semakin panjang bagi mereka yang karena satu lain hal tak bisa mudik. Sehingga kesabaran yang dimiliki harus lebih besar lagi. Silaturahim, tatap muka langsung akan kian berjarak dan rasa rindu makin besar kepada orang tua, saudara, keluarga dan orang-orang terdekat lainnya terpendam dalam hati.
Semakin dalam rindu itu tersimpan, bukankah hal tersebut pembuktian kesetiaan? Semakin panjang waktu berpisah, bukankah itu ujian seberapa besar cinta pada orang-orang yang kita sayangi? Cinta dan rindu perlu pengorbanan. Dengan kemajuan telekomunikasi saat ini pertemuan itu dapat disiasati dengan fasilitas smartphone melalui ruang daring. Tapi, tetap saja berbeda dan tak bisa tergantikan, bertemu fisik langsung jauh akan lebih terasa dan dalam.
Mudik tempat menjadi titik kembali sejenak. Berbagi rasa tahunan di hari kemenangan. Melepas rindu, berbagi rezeki, mengokohkan silaturahim, menyambung rasa. Ajang mudik ini juga dimeriahkan oleh berbagai acara reuni baik sekolah maupun komunitas/organisasi. Perihal silaturahim ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturahim.” ( HR. Bukhari – Muslim).
Energi sosial mudik sangat besar, tinggal ditata secara optimal agar kemanfaatan bagi desa kelahiran lebih besar lagi. Dan bagaimana dikondisikan agar tidak mengurangi amal Ramadan kita, terutama 10 akhir Ramadan yang di dalamnya terdapat malam ‘seribu bulan’ yang dikenal dengan Lailatul Qadar. (*)

