Ramadan Mulia dan Pendidikan Utama Anak

Oleh: Syamsudin Kadir

Penulis Buku “Pendidikan Ramadan”

DALAM konteks kehidupan keluarga, ramadan dengan segala rupa ibadah juga amal khasnya seperti shalat tarawih, tadarus al-Qur‟an, zakat, infak, sedekah, silaturahim, sahur, berbuka shaum dan sebagainya; bukan saja dapat mendidik diri kita sebagai orangtua, tapi juga dapat dijadikan sebagai momen mendidik keluarga, ya khususnya anak kita, agar menjadi generasi terbaik. Bukan saja dalam skala individu dan keluarga, tapi juga dalam skala masyarakat dan bangsa.

Sebagai pasangan suami-istri yang mendapatkan amanah untuk memiliki anak (keturunan) yang baik dari Allah, fakta dan fenomena anak-anak (remaja) yang terjerat kriminalitas akhir-akhir ini tidak serta merta disalahkan kepada sekolah dimana anak-anak menempuh pendidikan.

Menurut Dr. Adian Husaini (2014), tanggungjawab utama pendidikan anak sejatinya ada pada pundak kedua orangtuanya. “Orangtuanyalah yang punya tanggungjawab bahkan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhirat,” tegasnya.

Betul bahwa sekolah dimana guru diberi mandat untuk mendidik peserta didik (baca: anak-anak) wajib menunaikan proses pendidikan secara profesional, namun itu hanyalah sarana “bantuan” yang berbentuk formal (baca: pendidikan formal); sementara pendidikan utama anak dalam seluruh sudutnya tetap saja menjadi tanggung jawab kedua orangtuanya, baik dalam pendidikan yang menyangkut urusan duniawi (dunia) maupun menyangkut urusan ukhrawi (akhirat).

Pada buku yang berjudul “Melahirkan Generasi Unggul” (2020), saya sudah menegaskan bahwa pendidik utama dan pertama anak adalah kedua orangtuanya. Orangtua tidak boleh mengelak dengan kewajibannya, atas alasan apapun. Mereka mesti punya andil besar dalam membentuk dan membina anak mereka sendiri hingga menjadi hamba Allah yang benar-benar bertakwa.

Menurut Subliyanto (2014), untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, maka anak mesti memperoleh tiga pendidikan utama yaitu pendidikan tauhid, pendidikan akhlak, dan pendidikan ibadah.

Semakna dengan itu, menurut Dr. Adian Husaini (2014), anak juga wajib mendapatkan pengetahuan akhlak (adab), tapi juga mendaptkan pendidikan teladan (adab) orangtuanya yang kelak dapat menunjang pembentukan dirinya menjadi anak atau generasi yang beradab dan paham akan hakikat kehidupan dunia serta terdorong untuk berkontribusi besar dalam kehidupan sosial: masyarakat, bangsa dan negaranya.

Hak Anak

Pertama, pendidikan tauhid

Dalam hal ini, orangtua mesti mengenalkan kepada anaknya tentang Allah, baik nama maupun sifat-sifat-Nya. Juga mengenalkan Allah sebagai penciptanya dan pencipta alam semesta dan isinya, sehingga keimanan anak (kepada Allah) benar-benar melekat dan tertanam dengan kuat di hatinya. Dengan begitu, anak semakin menyadari dan meyakini bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan Allah dalam satu proses panjang yang unik.

Allah berfirman,

 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (12), Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (13), Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (14)” (QS. al-Mukminun: 12-14)

Jika kesadaran imani semacam ini dibentuk sejak dini, terutama pada momen shaum Ramadan, maka kelak di saat remaja dan dewasa, sang anak akan muncul sebagai generasi yang bukan saja takwa kepada Allah (dalam makna menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya), tapi juga menjadi generasi level ihsan, yaitu generasi yang menyadari bahwa kehidupan ini selalu diawasi oleh Allah; menyadari bahwa walaupun dirinya tak melihat wujud Allah, tapi ia tetap meyakini bahwa Allah selalu mengawasinya.

Kedua, pendidikan akhlak

Dalam khazanah pendidikan Islam, pendidikan akhlak kerap juga disebut dengan pendidikan adab. Maka Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik”. (HR. Abu Daud)

Pada konteks ini orangtua wajib menanamkan karakter-karakter baik kepada anaknya. Maka anak mesti diajar dan dibimbing agar memahami bagaimana akhlak atau adab dalam kehidupannya; baik adab kepada diri sendiri, maupun adab terhadap orang lain (orangtua, sahabat), serta adab atau beramal dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, kebangsaan bahkan kenegaraan.

Shaum Ramadan, misalnya, menghendaki kita untuk jujur; sehingga berdusta (seperti mengaku ber-shaum padahal menyantap bakso di siang hari tanpa argumentasi yang dibenarkan syariat) bukan saja termasuk kategori perilaku buruk yang memalukan, tapi juga dapat menghilangkan barakah dan hakikat shaum kita.

Dalam konteks pendidikan anak, di sinilah momen bagi orangtua untuk menanamkan kejujuran bagi anaknya. Minimal latihan bersabar dan jujur atas kehendak syahwat perut untuk tidak makan melampaui batas, bahkan untuk makan atau minum di saat seharusnya dilarang makan atau minum.

Pendidikan akhlak atau adab sendiri merupakan prioritas pendidikan Islam, sebab ia merupakan misi utama diutusnya nabi Muhammad shallallahu „alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bazzar).

Dalam maknanya yang mendasar, akhlak bukan sekadar urusan sopan santun, tapi soal adil, bijaksana, jujur, empati dan responsif serta tanggungjawab dan akhlak dalam kehidupan sosial.

Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab pernah berkata;“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajlis dengan Robi‟ah Ibnu Abi „Abdirrahman, seorang faqih di kota Madinah di masanya. Ibuku berkata, “Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Ketiga, pendidikan ibadah

Pada konteks ini orangtua mengajar dan membimbing anaknya untuk beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan syar’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam sebagai syarat diterima atau tidaknya ibadah.

Ramadan adalah momen terbaik bagi orang tua untuk menanamkan kesadaran kepada diri dan anaknya bahwa hakikat manusia yang sesungguhnya adalah sebagai ‘abdullah’, yaitu hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah berfirman,

 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Menurut Fauzil Adhim (2008), sebagai generasi masa depan umat sekaligus bangsa, anak-anak kita mesti mendapatkan pendidikan sejak dini. Pendidikan Islam dalam hal iman, ibadah, dan akhlak, lanjut Fauzil Adhim, mesti menjadi prioritas utama. Sebab kegagalan dalam mendidik hal prioritas di usia anak-anak sangat berpengaruh terhadap kualitas mereka kelak di saat dewasa.

Mengamini Fauzil Adhim, maka benarlah jika dikatakan bahwa pendidikan tauhid, ibadah dan akhlak merupakan mata rantai pendidikan yang tidak bisa dipisahkan pelaksanaannya dalam kehidupan anak sejak kecil, masa remaja dan dewasa bahkan di hingga tua kelak.

Terlebih pada era ini, anak-anak kita bahkan kita sebagai orangtua mereka kerap dihadapkan dengan berbagai tantangan kehidupan yang semakin sulit, rumit, dan kompleks. Kemaksiatan dan kemungkaran terlihat sekaligus merajalela di mana-mana. Diaksikan oleh banyak orang lintas latar belakang juga usia.

Karena itu, sungguh, Ramadan tiba mendesak kita agar mampu menjadikannya sebagai momen untuk mendidik diri dan generasi setelah kita, ya anak-anak kita agar menjadi generasi beradab dalam maknanya yang hakiki. Termasuk agar supaya menghindarkan kita dari berbagai macam kemaksiatan dan kemungkaran yang semakin merajalela di mana-mana.

Akhirnya, selamat beribadah di Ramadan mulia, selamat mendidik generasi beradab, yaitu generasi yang bukan saja bermanfaat bagi dirinya, tapi juga bagi keluarga, masyarakat, bangsa kita Indonesia bahkan bagi peradaban seluruh umat manusia! (*)

Scroll to Top