
Oleh: Iwan Wahyudi
Penulis Buku “Energi Ramadan”
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah diri dari orang-orang yang bodoh.“ (QS. Al-A’raf: 199)
Sifat egois yang merupakan salah satu dampak negatif masyarakat modern, mengantarkan manusia menjadi orang-orang yang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri dan semakin kurang peduli dengan masalah yang dihadapi orang lain. Hilangnya rasa peduli dan empati akan membuat seseorang mudah tersulut amarah, keinginan membalas dan menyimpan dendam saat urusan pribadinya sedikit saja diganggu oleh orang lain. Sikap seperti ini malah akan membuat kita menanggung dua beban – beban atas gangguan orang lain dan beban marah yang tersimpan di dalam dada.
Jika memperturutkan egoisme, maka tidak akan muncul rasa mengakui kesalahan dan kewajiban untuk meminta maaf, apalagi jika kita pada posisi yang terzalimi dan harus memberi maaf. Islam menganjurkan pada kita untuk memerdekakan dan memenangkan diri dari segala bentuk penjajahan hawa nafsu yang merusak dan membebani.
Diriwayatkan oleh Ath Thabari, ketika Ayat 199 surah Al-A’raf di atas diturunkan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam meminta penjelasan malaikat Jibril terkait kandungan dan maksudnya. Jibril kemudian menjawab, “Sesungguhnya Allah ta’ala memerintahkan agar engkau memaafkan, sekalipun kepada orang yang menganiayamu (agar engkau) memberi kepada orang yang menahan pemberiannya, dan (agar engkau) menyambung silaturahim, meskipun kepada orang yang sengaja memutuskannya.”
Bisa saja dalam pandangan manusia, saat kita dizalimi maka harus membalasnya sebagai bentuk menunjukkan eksistensi dan kehormatan diri agar kita tidak dinilai sepele dan selalu tertindas terus menerus untuk selanjutnya. Tapi, sebenarnya dalam sudut pandang menimbang keuntungan yang lebih besar, maka kita harus memilih sikap yang sangat menguntungkan dan menempatkan kita pada posisi sebagai pemenang. “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22).
Bagi orang yang bertakwa, ampunan Allah jauh lebih penting dari pada sekedar permintaan maaf dari orang lain, ampunan dari Allah bukankah sebuah kemenangan dibandingkan hanya memaafkan orang lain?
Memaafkan orang lain merupakan hal yang cukup berat bagi sebagian di antara kita. Kita dapat menghadirkan dua hal ini sebagai cara efektif memaafkan kesalahan orang lain. Pertama, menyadari bahwa manusia adalah makhluk tempatnya salah dan lupa. Jika kita ingin dimaafkan oleh orang lain, tentu orang lain yang berbuat salah pada kita ingin dimaafkan juga oleh kita. Kedua, menyakini seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Pemaaf dan menyukai orang yang meminta maaf. Mengapa kita begitu kikir memaafkan orang lain? Padahal Allah mudah memberi maaf.
Sikap memaafkan orang yang telah berlaku zalim, kita dapat bercermin dari salah satu sosok ulama teladan yang dimiliki bangsa Indonesia, Buya Hamka.
Hubungan Hamka dan Soekarno yang akrab pada masa perjuangan kemerdekaan pernah retak. Hamka dipenjara oleh Soekarno dua tahun (1964-1966) tanpa proses pengadilan akibat fitnah politik.
Tak tanggung-tanggung, Hamka dituduh melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No 11 terkait merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno. Selain itu juga dituduh menerima uang dari Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman, di tengah konfrontasi Indonesia-Malaysia. Tuduhan yang sangat keji dan bertolak belakang dengan perjuangan Hamka selama ini yang mencintai tanah airnya, Indonesia.
Buku-buku Hamka dilarang terbit dan beredar. Tuduhan ini diyakini tidak lepas juga dari rekayasa Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berupaya menyingkirkan lawan politiknya terutama Partai Masyumi di mana Hamka berkiprah..
Betapa terzaliminya, Hamka harus mendekam dalam jeruji besi oleh sahabatnya sendiri, Soekarno. Namun ketika menjelang wafat, Soekarno berwasiat agar Hamka kelak mengimami shalat jenazahnya. Saat Presiden pertama RI itu meninggal tahun 1970, Hamka dengan keluhuran budi, jiwa lapang dadanya dan ketulusan persaudaraan Islam malaksanakan wasiat itu.
Perihal menjadi manusia pemaaf ini bukan hal yang sederhana dan mudah, jika melihat sakit dan pedih perilaku seseorang terhadap kita. Namun, karena ini bukan hal gampang Allah juga memberi ganjaran yang tidak kecil.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa memaafkan kesalahan seorang muslim, maka Allah akan memaafkan kesalahannya”.
Di hari yang Fitri ini, mari menggenapkan amal, menyempurnakan kemenangan dengan saling meminta maaf atas segala khilaf dan memaafkan atas beragam kesalahan sepanjang bukan menyangkut masalah hudud (hukuman yang diatur oleh Allah Ta’ala).
“…Maka, maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85).

